Rabu, 04 Agustus 2010

PARASIT DAN PENYAKIT IKAN

IDENTIFIKASI PENYAKIT
• Dalam mengidentifikasi atau diagnosis penyakit ikan, nama penyakit cukup penting. Nama penyakit sering dihubungkan dengan gejala klinis seperti penyakit bercak putih, penyakit bintik putih dsb. Tetapi, gejala-gejala tsb tidak selalu merupakan tanda-tanda khusus penyakit tertentu.
• Ada beberapa penyakit yang mempunyai gejala yang sama sehingga untuk mendapatkan diagnosis yang benar, perlu dilakukan pengujian lebih luas terhadap ikan-ikan yang sakit.
• Cara lain untuk memberi nama penyakit adalah menurut agen penyebab penyakit, misalnya vibriosis untuk memberi nama penyakit yang disebabkan oleh bakteri vibrio sp.
• Agar tindakan pengobatan yang dilakukan dapat memberikan hasil sesuai harapan, maka petani ikan harus mampu mengidentifikasi terlebih dahulu penyebab penyakit yang menyerang ikan budidaya.
• Dalam identifikasi atau diagnosis suatu penyakit, satu-satunya hal yang perlu dilakukan adalah mengenal adanya satu penyakit khusus atau lebih yang berhubungan dengan ketidaknormalan dan mengidentifikasi penyebab- penyebabnya.
• Bila penyebab penyakit pada ikan sudah teridentifikasi, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah menentukan jenis dan cara pengobatan yang paling tepat.
• Seseorang yang hendak melakukan identifikasi, selain harus mengetahui tanda-tanda ikan terserang penyakit, nama-nama penyakit ikan dan teknik mendiagnosis, juga harus mengetahui cara berjangkit dan penularan suatu penyakit.

A. PENULARAN PENYAKIT IKAN
• Secara garis besar, cara berjangkit dan penularan penyakit antara lain sebagai berikut :
1. Melalui Air
• Penggunaan air yang berkualitas rendah atau air yang telah tercemar oleh senyawa beracun dapat menyebabkan timbulnya serangan penyakit pada ikan peliharaan baik penyakit infeksi maupun non infeksi.

2. Melalui Ikan
• Ikan yang dibudidayakan, baik ikan asli atau ikan-ikan introduksi juga dapat membawa penyakit. Mungkin saja benih yang ditebar telah diserang penyakit sebelum ditebar, sehingga penakit itu kemudian ditularkan kepada ikan-ikan lainnya di dalam wadah pembesaran.
5. Konstruksi Wadah Budidaya
• Kolam, tambak, keramba,keramba jaring apung dsb yang kurang memenuhi syarat sehingga memungkinkan sumber penyakit berupa organisme predator atau kompetitor memasuki wadah budi daya.
• Tambak yang tidak dikeringkan sampai tuntas masih menyimpan timbunan bahan organik yang mempercepat penurunan kualitas air serta menjadi sarang penyakit.

6. Melalui Peralatan
• Peralatan yang digunakan untuk menangani atau mengangkut ikan yang terserang penyakit dapat merupakan sumber penularan penyakit. Oleh karena itu, peralatan yang telah digunakan untuk penanganan atau mengangkut ikan segera disterilkan agar organisme penyebab penyakit yang menempel pada peralatan tersebut dapat terbunuh.

7. Hama
• Hama yang dapat lolos ke wadah budidaya juga dapat menjadi penularan penyakit. Penyakit yang dibawa oleh hama dapat menyerang ikan budidaya, atau hama yang melukai ikan budidaya adalah penyebab terjadinya serangan penyakit karena merupakan media subur terjadinya serangan parasit, jamur dan bakteri..

B. TANDA-TANDA IKAN TERSERANG PENYAKT
• Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi penyakit yang menyerang ikan peliharaan adalah mendeteksi tanda-tanda serangan dan mengidentifikasi secepat mungkin sumber dan penyebabnya. Secara garis besar, tanda-tanda ikan terserang penyakit dan penyebabnya adalah sebagai berikut (Afrianto dan Liviawaty, 1992) :

C. DIAGNOSIS PENYAKIT IKAN
1. Pemeriksaan tubuh bagian Eksternal
• Dapat dilakukan sebelum ikan mati atau setelah kematian (dibunuh).
• Tujuannya adalah untuk menentukan jens organisme ektopatogen yang menyerang ikan.
• Langkah pertama yang dilakukan adalah mengamati, apakah terjadi pendarahan atau luka pada tubuh ikan?Adakah bagian tubuh yang rontok atau membengkak?

• Jika tidak ada, buatlah preparat rentang hasil kerokan dari bagian luar kulit ikan untuk diamati.
• Pembuatan preparat rentang dilakukan dengan cara mengerok bagian-bagian tertentu dari kulit, terutama di sekitar sirip punggung, sirip dada, dan sirip perut.
• Masing-masing hasil kerokan ini dioleskan pada kaca preparat(deck glass) dan ditutup dengan kaca object (object glass).

• Selanjutnya diamati dengan mikroskop untuk memastikan jenis organisme yang ada.
• Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan terhadap sirip ikan dengan cara memotong bagian sirip yang diduga terserang dan membuat preparat rentang dari hasil kerokan sirip untuk diamati dengan mikroskop.
• Tahap terakhir dari pemeriksaan tubuh bagian luar dapat dilanjutkan ke bagian insang dengan cara memperhatikan warna atau bentuknya dan dilanjutkan dengan membuat preparat rentang.
• Dari hasil pengamatan ini kemungkinan dapat diketahui jenis organisme penyebab penyakit. Jika belum diketahui, pemeriksaan sebaiknya dilanjutkan ke tubuh bagian dalam.

2. Pemeriksaan Tubuh Bagian Internal
• Untuk melakukan pemeriksaan tubuh bagian internal perlu dilakukan pembedahan terlebih dahulu terhadap beberapa sampel ikan yang terserang penyakit.
• Pembedahan dilakukan dengan cermat agar tidak merusak organ bagian dalam. Setelah selesai pembedahan, amatilah organ-organ bagian dalam.

• Perhatikan dengan seksama, apakah terjadi pendarahan atau penempelan organisme penyakit?
• Untuk mengamati organisme penyakit berukuran kecil digunakan pemeriksaan preparat rentang atau pemeriksaan bakteriobiologis.

• Berbagai perubahan penting yang menunjukkan adanya kelainan pada pemeriksaan organ dalam adalah :
1. Perubahan warna organ dari warna aslinya menjadi kuning, kemerahan, pucat atau gelap.
2. Bentukan di permukaan organ berupa nodula berwarna putih atau gelap.
3. Bentukan keras di permukaan organ.
4. Terjadi pembesaran pada organ.
5. Bentukan lemak berlebihan.
6. Organ dalam membengkak.
7. Perubahan konsistensi menjadi keras atau lunak dan rapuh.
8. Permukaan organ memberi kesan mengkilat.
9. Terjadi lekatan antara organ yang satu dengan yang lainnya.

3) Pemeriksaan Bakteriologis
• Bertujuan untuk mendeteksi jenis organisme yang menyerang, terutama yang berukuran kecil.
• Langkah-langkah pemeriksaan bakteriologis meliputi pengambilan sampel, inkubasi, pewarnaan dan pengamatan dengan mikroskop.
• Pengambilan sampel harus dilakukan secara hati-hati dan steril dengan menggunakan jarum ose.
• Hasil pengambilan sampel penyakit dengan jarum ose selanjutnya ditanam dalam media agar yang telah disediakan dalam petri disk.
• Buat beberapa goresan garis yang sejajar pada permukaan media agar. Jarak antara masing-masing goresan jangan terlalu dekat agar pertumbuhan bakteri tidak berdesak-desakkan.
• Selanjutnya diinkubasi selama beberapa saat untuk mendapatkan biakan murni.
• Jika ikan terserang penyakit, maka setelah masa inkubasi berakhir, pada media agar akan tumbuh satu atau beberapa koloni bakteri penyebab penyakit ikan.
• Selanjutnya, buat preparat rentang dari koloni tersebut dan lakukan proses pewarnaan untuk memudahkan pengamatan dengan mikroskop.

Ada dua cara pewarnaan bakteri yang dapat dilakukan untuk membantu mengidentifikasi jenis bakteri, yaitu :
1. Pewarnaan Gram
 Buat preparat rentang dari sampel yang diduga mengandung bakteri.
 Kemudian di fiksasi (diikat) dengan jalan memanaskan preparat rentang di atas lampu bunsen atau lampu spirtus selama beberapa detik sampai preparat tersebut kering.
 Warnai preparat tersebut dengan larutan kristal violet 1% dan dibiarkan selama 5 menit.
 Buanglah larutan kristal violet dan tetesi preparat tersebut dengan larutan lugol (campuran 1 gr yodium dengan 2-3 gr KI). Setelah dibiarkan selama 1-2 menit, cucilah preparat tersebut dengan alkohol 96% dan dibilas dengan air bersih.
 Dengan bantuan minyak immersi, amatilah preparat tersebut di bawah mikroskop.
 Apabila bakteri tampak menjadi berwarna violet, berarti termasuk ke dalam golongan gram positif dan bila berwarna merah jambu (pink) berarti tergolong bakteri gram negatif.
 Golongan bakteri gram negatif sebagian besar bersifat patogen terhadap ikan.

2. Pewarnaan Fuchsin
 Setelah preparat rentang difiksasi, teteskan Carbol Fuchsin secukupnya dan panaskan sampai mendidih di atas lampu bunsen selama 3-5 menit.
 Cucilah preparat dengan air mendidih dan bilas dengan alkohol asam ( campuran 97 ml alkohol 95% dengan 3 ml HCl absolut).
 Rendam preparat tersebut dalam air yang mengalir untuk menghilangkan alkohol asam Lakukan pengecatan dengan Methylene Blue (campuran 0,3 gr Methylene Blue dengan 30 ml alkohol 95% ditambah 100 ml KOH 0,01%).
 Cucilah kembali preparat tersebut dengan air ledeng dan amati di bawah mikroskop. Jika kurang jelas tambahkan minyak immersi.




PARASIT DAN PENYAKIT IKAN

1. Penyakit ikan
 Defenisi : segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan suatu fungsi atau struktur dari alat tubuh atau sebagian alat tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung.
 Prinsipnya, penyakit ikan datang melalui proses hubungan antara tiga faktor, yaitu kondisi lingkungan (air), kondisi inang (ikan), dan jasad patogen (jasad penyakit).
 Penyakit dapat ditimbulkan oleh satu atau berbagai macam penyakit.
2. Penyebab Penyakit/Sumber penyakit
 Lingkungan yang tidak optimal,misalnya suhu yang tinggi dapat menyebabkan ikan stres sehingga daya tahan tubuhnya menjadi lemah dan mudah terserang penyakit.
 Pakan sangat berpengaruh terhadap kesehatan ikan. Kualitas pakan juga turut berperan dalam menentukan kesehatan ikan.
 Transportasi, dapat menyebabkan tekanan pada sistem kekebalan dan menghasilkan berbagai macam penyebab meningkatnya penyakit dan kematian pada ikan.
 Kepadatan ikan yang melebihi daya dukung perairan.
 Ikan mengalami memar dan luka karena saling menggigit atau penanganan yang kurang baik.
 Senyawa beracun termasuk logam-logam berat seperti seng, tembaga, merkuri atau timah.
 Polutan yang berasal dari Pestisida (insektisida, herbisida,dll) atau buangan rumah tangga.
 Cacat bawaan/turunan yang dibawa ikan sejak lahir.misalnya tulang belakang yang tidak sempurna, tulang kepala membengkok atau mata yang juling. Selain itu, cacat karena perlakuan pembenih yang tidak tepat.
 Organisme parasit/jasad patogen seperti bakteri, jamur,virus dan parasit adalah organisme yang umumnya menimbulkan kerugian yang cukup besar.
 Dalam kondisi normal di lingkungan perairan bebas, jumlah ikan yang terserang jasad patogen tidak besar, kecuali bila terjadi hal-hal tertentu sehingga menimbulkan kematian ikan yang sangat besar.
 Hama adalah organisme yang mampu menimbulkan gangguan terhadap ikan budidaya baik secara sengaja atau tidak sengaja masuk ke dalam wadah pemeliharaan.
 Dapat menyebabkan terjadinya serangan penyakit, baik secara langsung maupun tidak langsung.
 Sebagai predator, kompetitor dan perusak sarana budidaya.
 Hama predator yang sering dijumpai antara lain ikan, burung, ular, katak dan beberapa jenis insekta.
 Beberapa jenis insekta yang cukup berbahaya antara lain Notonecta sp, Cybister sp, Belostoma indicus dan kini-kini.
 Notonecta : merupakan insekta berbahaya karena sering merusak telur maupun benih ikan dengan cara mengisap isinya.pada malam hari selalu terbang dari satu kolam ke kolam lainnya untuk mencari mangsa.
 Larva Cybister sp,memiliki rahang yang kuat untuk menjepit tubuh ikan yang masih kecil.
 Belostoma indicus merupakan organisme buas yang memiliki tubuh relatif besar, yaitu sekitar 10-12 cm.Sering menyerang ikan-ikan kecil dan mengisap seluruh cairan tubuh mangsanya.
 Kini kini merupakan larva capung (Odonata) yang sering menyerang ikan-ikan kecil yang dipelihara di kolam atau tambak,biasanya tinggal pada tumbuh-tumbuhan air kemudian menghisap cairan tubuhnya.
 Hama kompetitor menyebabkan munculnya persaingan dengan ikan peliharaan dalam hal mendapatkan oksigen, pakan maupun ruang gerak.
 Hama perusak sarana menyebabkan kerusakan pada sarana, misalnya kepiting yang menggali pematang (tanggul) dan merobek penyaring pada pintu.
 Selain itu, hama-hama di atas juga dapat membawa organisme penyakit seperti bakteri, virus, parasit dan jamur.

3. Bagian Tubuh ikan yang diserang penykit
a. Kulit
 Kulit ikan menunjukkan warna pucat dan berlendir. Tanda ini terlihat jelas pada ikan yang berwarna gelap. Penyakit yang disebabkan oleh jamur menimbulkan bercak-bercak warna kelabu, putih atau kehitam-hitaman pada kulit ikan. Ikan yang menderita penyakit kulit kadang-kadang menggosok-gosokkan badannya pada suatu benda di dalam air.
b. Insang
 Ikan terlihat sulit bernafas. Tutup insang mengembang dan lembaran-lembaran insang pucat. Pada lembaran-lembaran insang terlihat bintikmerah yang disebabkan oleh pendarahan kecil (peradangan). Jika terdapat bintik-bintik putih pada insang, hal ini disebabkan oleh parasit yang menempel pada insang tersebut.

c. Organ dalam
 Perut ikan membengkak dengan sisik-sisik ikan berdiri (penyakit eropsy), perut menjadi sangat kurus. Kotoran ikan berdarah, menandakan adanya radang usus. Penyakit pada gelembung renang, menyebabkan ikan berenang terjungkir balik karena terganggunya keseimbangan badan.


PARASIT DAN PENYAKIT IKAN
PENYAKIT PARASITER
• Jasad Patogen dapat dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu :
1. Patogen asli (true patogen) adalah organisme patogen yang selalu menimbulkan penyakit khas apabila ada kontak dengan ikan.
2. Patogen potensial (opportunistic patogen) adalah organisme patogen yang dalam keadaan normal hidup damai dengan ikan, akan tetapi jika kondisi lingkungan menunjang akan menjadi patogen yang membahayakan ikan.
• Organisme patogen yang sering menimbulkan penyakit di bagian luar tubuh ikan disebut ektopatogen sedangkan yang menyerang di bagian dalam tubuh ikan disebut endopatogen.
• Jasad patogen yang sering menyerang ikan-ikan baik ikan air tawar maupun ikan laut antara lain :
1) Parasit
• Adalah hewan atau tumbuhan yang hidup di dalam atau pada tubuh organisme lain (berbeda jenis), sehingga memperoleh makanan dari inangnya tanpa ada kompensasi apapun.
• Parasit yang dikenal menyerang berbagai ikan budidaya antara lain sebagai berikut :
1) Protozoa
• Merupakan hewan yang paling kecil dan banyak yang berupa parasit ikan.
• Biasanya parasit dan inangnya dapat hidup selaras,hanya protozoa dalam jumlah besar yang mampu merusak populasi ikan.
• Beberapa jenis protozoa hanya menyerang organ-organ internal (ginjal, hati dan usus).
• Pengamatan langsung pada organ-organ ini dipakai dalam mendiagnosis ikan yang terserang protozoa.
• Menurut Zonneveld dkk (1991) protozoa yang bersifat patogen termasuk dalam fila berikut :
1. Myxozoa (Myxosoma,myxobolus)
2. Sarcomastigophora (Trypanosoma,Oodinium).
3. Sporozoa (Eimeria)
4. Ciliophora (ichthyoptirius multifilis, Trichodina).

• Protozoa adalah hewan yang terbentuk dari satu sel. Pembelahannya dilakukan secara aseksual. Gerakannya bisa terlihat sebagai berikut :
1. Pasif, melekat pada inang
2. Aktif, tanpa organela tetapi dengan kontraktil fibrila
3. Aktif, dengan kaki-kaki, flagel dan silia.

2) Metazoa
• Metazoa adalah hewan bersel banyak dengan berbagai struktur internal seperti saluran pencernaan, gonad dan organ yang melekat.
• Ciri-ciri metazoa adalah adanya organ untuk melekat atau menempel (pengisap,pengait) dimana organ-organ ini merusak jaringan tubuh ikan. Jaringan yang rusak bisa menjadi “pintu masuk” bagi infeksi virus dan bakteri.

 Aschelminthes : Nematoda
 Annelida : Hirudinea
 Arthropoda : Crustacea 1. Branchiura
2. Copepoda
 Mollusca : Lamellibranchia
 Chordata : Cyclostoma

1. Monogenea
• Banyak jenis monogenea yang hidup sebagai parasit pada ikan.
• Cirinya adalah mempunyai struktur seperti jangkar pada ujung ekor, dilengkapi dengan pengikat pada tepinya dan tidak mempunyai inang perantara.
• Mayoritas adalah ektoparasit serta hidup dan berkembang biak sendiri pada ikan yang sama.

• Contoh : Dactylogyrus sp merupakan parasit pada insang dan Gyrodactylus sp parasit pada sirip dan kulit.
2. Digenea
• Kebanyakan bersifat endoparasit bila ikan merupakan inang terakhirnya. Bila ikan merupakan inang perantaranya, maka burung adalah inang terakhirnya.
• Di dalam tubuh inang perantara, tahap larva parasit sering ditemukan dalam kulit, otot atau lensa mata. Contoh Sanguinicola.

3. Cestoda
• Cestoda mempunyai satu induk perantara atau lebih. Cirinya adalah kepala (scolex) dengan organ-organ pelekat (sucker atau disc).
• Perkembangannya adalah : telur – oncosphaera (dengan 8 pengait) atau korasidium (dengan silia berenang) – proserkoid di dalam inang perantara I (terutama Crustacea) – inang perantara II – inang terakhir.

4. Nematoda
• Banyak yang hidup sebagai endoparasit di dalam tubuh ikan.
• Crustacea : yang hidup sebagai parasit pada ikan, yaitu copepoda ( Lernea sp dan Ergasilus sp), branchiura (Argulus sp) dan isopoda.
• Kebanyakan kerusakan disebabkan oleh aktivitas parasit tersebut dalam mengambil makanan.

5. Hirudinea
• Lintah adalah cacing simetris bilateral. Hidup sebagai parasit yang bersifat tidak tetap. Tubuhnya selalu bergaris melintang. Mempunyai alat pengisap anterior.
• Biasanya mengisap darah dalam jumlah yang banyak sehingga menimbulkan rasa gatal pada inangx.
• Salah satu jenis lintah yang ditemukan menyerang ikan budidaya adalah Piscicola sp.

2) Bakteri
• Adalah miroorganisme dengan struktur intraseluler yang sederhana, yang mempunyai daerah penyebaran relatif luas, sehingga hampir dijumpai di mana saja.
• Mempunyai ukuran lebih besar daripada virus, yaitu antara 0,3-0,5 mikron.
• Bentuknya berbeda menurut genusnya.
• Ciri-ciri bakteri adalah sifatnya yang dapat tumbuh dan bertambah banyak dalam kelompok, berbentuk rantai atau benang, memiliki koloni yang berwarna dan berkilau atau tidak, halus atau kasar.
• Spesies bakteri mempunyai kapsul yang mengelilingi dinding sel dan ada pula yang mempunyai flagel.

• Berdasarkan reaksi sel bakteri terhadap pewarnaan warna gram, bakteri dapat dikelompokkan menjadi bakteri gram negatif (terlihat berwarna pink atau merah) dan bakteri gram positif (terlihat berwarna biru).
• Kebanyakan bakteri patogen ikan termasuk golongan gram negatif, seperti Aerosomonas, Vibrio, dan Flexibacter.

3) Virus
• Adalah organisme penyebab dan sumber penyakit yang sangat kecil karena memiliki ukuran tubuh antara 20-300 nanometer, sehingga hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron.
• Virus mempunyai struktur tubuh yang sederhana dan tidak mempunyai organ pencernaan sendiri, sehingga kebutuhan pakan untuk memperbanyak dirinya tergantung sepenuhnya pada organ pencernaan dari tubuh inangnya.

• Usaha untuk memperbanyak dirinya dimulai dengan masuknya virus ke dalam sel inang. Pada saat itu asam nukleat dari virus (RNA dan DNA) akan mengendalikan organ pencernaan dari sel inang untuk segera memproduksi asam nukleat sesuai dengan kebutuhan virus tersebut. Selain itu, virus juga akan memerintahkan pembentukan protein baru yang mempunyai sifat khas untuk membunuh organisme lain atau digunakan sebagai bungkus pelindung bagi asam nukleat virus yang disebut capsid.
• Gejala umum penyakit akibat virus adalah pendarahan pada berbagai organ (termasuk kulit), perut menggembung, dan kulit pucat gelap pada bagian-bagian tertentu.
• Infeksi virus sering diikuti dengan infeksi sekunder oleh bakteri, sehingga tubuh ikan menjadi sangat lemah dan sulit diidentifikasi penyakit yang menyebabkannya.
• Infeksi virus bisa tersebar secara horizontal atau vertikal.
4) Jamur
• Thallophyta dibagi menjadi fungi/jamur (tidak mempunyai klorofil) dan alga (mempunyai klorofil).
• Pada jamur ada kelompok phycomycetes, yaitu jamur tingkat rendah yang dicirikan oleh hifa tanpa ruas dan spora aseksual di dalam sporongia.
• Pada budidaya ikan, hanya ada 4 spesies jamur yang penting. Keempatnya sangat mudah di deteksi karena mempunyai organ-organ sasaran dan morfologi khusus.
• Ichthyophonus sp menginfeksi organ-organ internal, Branchyomycetes sp menginfeksi pembuluh darah insang,serta Saprolegnia sp dan Achlya sp menginfeksi terutama kulit dengan ciri-ciri seperti kapsul dari kapas mengelilingi telur dan larva.



PENYAKIT NON PARASITER
1. Stres
• Semua perubahan pada lingkungan dianggap sebagai penyebab stres bagi ikan dan untuk itu diperlukan adanya adaptasi dari ikan.
• Beberapa faktor stres, misalnya meningkatnya suhu air dan salinitas bisa menyebabkan meningkatnya metabolisme ikan.
• Ikan sering beradaptasi sendiri tanpa masalah. Tetapi, kadang-kadang ikan tidak mungkin beradaptasi jika waktu adaptasinya sempit.
• Faktor lain misalnya transportasi, dapat menyebabkan tekanan pada sistem kekebalan dan menghasilkan berbagai macam penyebab penyakit dan kematian pada ikan.
• Misalnya penanganan pada ikan baik saat pengangkutan sampai pemanenan.
• Ada juga stres makanan yang menyebabkan masalah pada ikan lele. Jika ikan muda (0,5-5,0 gram) diberi makanan lebih dari 5% berat tubuh segar/hari, usus bagian belakang atau bagian tengah pecah menimbulkan penyakit.
• Stres dapat mengakibatkan ikan menjadi shock, tidak mau makan, kanibalisme dan meningkatnya kepekaan terhadap penyakit.
2. Masalah Pakan
• Ikan yang kekurangan gizi juga merupakan sumber dan penyebab penyakit.
• Pakan yang kandungan proteinnya rendah akan mengurangi laju pertumbuhan, proses reproduksi kurang sempurna, dan dapat menyebabkan ikan menjadi mudah terserang penyakit.
• Kekurangan lemak atau asam lemak akan menyebabkan pertumbuhan ikan terhambat, kesulitan reproduksi dan warna kulit yang tidak normal.
• Kekurangan karbohidrat dan mineral jarang terjadi, kecuali yodium yang dapat menyebabkan gondok.
• Kekurangan vitamin dapat mengakibatkan pertumbuhan menurun, mata ikan redup, anemia, kulit pucat, dan pertumbuhan tulang belakang kurang baik (bengkok).
• Pakan yang tidak seimbang atau komponennya berlebihan dapat menimbulkan masalah.
• Kelebihan protein dan lemak dapat menimbulkan penimbunan lemak di hati dan ginjal sehingga ikan menjadi gemuk, nafsu makan berkurang, dan bengkak di sekitar perut.
• Kelebihan karbohidrat juga dapat menyebabkan penimbunan lemak di hati dan organ dalam lainnya, rongga perut melebar, insang menjadi pucat, telur tertahan, dan kualitasnya menurun.
• Semua kondisi yang membuat ikan tidak normal tersebut menyebabkan ketahanan tubuh ikan menurun sehingga dengan mudah diserang penyakit.
• Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan ikan makanan yang mengandung gizi lengkap, tidak kelebihan gizi, pemberian makanan cukup, tepat waktu dan makanan tidak mengandung bahan beracun.
3. Pemberian Pakan yang berlebihan
• Ada dua kejadian yang berbahaya bila ikan diberikan pakan yang berlebihan, yaitu ikan mengalami kekenyangan yang berlebihan sehingga usus ikan mudah pecah dan penurunan kualitas air.
• Misalnya pada ikan lele muda yang diberikan pakan berlebihan.
4. Keracunan
• Beberapa penyebab penyakit hanya bisa menyerang ikan apabila faktor lingkungan melampaui nilai kritis.
• Apabila pertukaran antara gas-gas dan ion-ion efisian, maka proses keracunan sangat mudah.
• Keracunan yang banyak dikenal adalah yang disebabkan oleh ion NO2- dan NH3. Tetapi ini hanya terjadi pada kondisi lingkungan tertentu, misalnya sisa pakan yang banyak di kolam/tambak.
• Keracunan oleh NH3 dari air juga bisa terjadi pada saat tingkat NH3 dalam air lebih tinggi daripada tingkat NH3 pada darah. Hal ini bisa terjadi pada kolam dan tambak yang mempunyai pH tinggi dan banyak bahan organik yang mengalami dekomposisi.
• Darah ikan yang mengalami keracunan berwarna abu-abu kecoklatan karena terbentuknya methaemoglobin yang tidak bisa mengikat oksigen. Pada keadaan ini ikan dapat mati.
• Gangguan kesehatan lainnya adalah trauma gelembung gas atau disebut GBT (Gas Bubble Trauma).
• Penyakit ini terjadi karena air terlalu jenuh dengan gas-gas terutama nitrogen,tetapi bisa juga terjadi karena terlalu jenuhnya oksigen.
• Terlalu jenuhnya darah dengan gas bisa terjadi misalnya karena penggunaan air yang dipanaskan, air disediakan melalui tekanan yang berlebihan, dan pengaliran air menggunakan pompa-pompa yang berlubang.
• Didalam tubuh ikan, dengan kejenuhan darah seperti tersebut di atas, akan timbul suatu gelembung udara dengan tingkat tertentu dan hal ini akan menyumbat kapiler-kapiler darah. Kemudian sirkulasi darah akan berkurang dan akhirnya menimbulkan luka pada jaringan yang kemudian diserbu oleh bakteri atau jamur.
• Keracunan juga bisa berasal dari pakan. Misalnya dari bahan baku yang digunakan, aktivitas mikroorganisme yang mencemari pakan dan penurunan/ pengrusakan komponen pakan selama penyimpanan.
• Ketengikan lemak dapat merusak fungsi hati ikan.
• Beberapa senyawa lainnya yang tidak beracun tetapi dapat menurunkan kualitas pakan antara lain enzim thiaminase yang dapat merusak thiamin (vitamin B1), trypsin inhibitor yang dapat menghambat aktivitas enzim tripsin.
• Keracunan juga bisa berasal dari limbah baik limbah rumah tangga seperti detergen, limbah pertanian seperti pestida maupun limbah industry seperti Cu, Cd, dan Hg serta berbagai bahan pencemaran lainnya. Kesemuanya ini pada konsentrasi tinggi dapat membahayakan ikan dan para pengkonsumsi ikan.
5. Memar dan Luka
• Ikan mengalami memar dan luka karena saling mengigit atau penanganan yang kurang baik. Penyakit ulcus syndrome pada ikan kerapu yang diidentifikasikan disebabkan oleh bakteri vibrio sp. (vibriosis) berawal dari memar dan luka pada ikan (Anonim, 1994).
• Luka atau memar ini terjadi akibat penangkapan atau penanganan benih yang kurang hati-hati.
• Ikan yang akan diangkut ke tempat lain hendaknya sehat. Perlakuan pemberokan pelu diberikan untuk mengosongkan isi lambung ikan, selain itu sebaiknya ikan yang diangkut juga direndam terlebih dahulu dalam larutan kalium permanganat untuk membunuh organisme penyebab penyakit yang mungkin menempel pada tubuh ikan.
• Selama pengangkutan perlu diperhatikan agar kondisi lingkungan dalam media pengangkut tetap baik, sehingga ikan tidak mengalami gangguan.
• Untuk menjaga kondisi media pengangkut tetap baik, perlu diperhatikan waktu pengangkutan, jumlah ikan yang diangkut, dan jarak yang ditempuh.
• Di dalam wadah pengangkut, ukuran ikan harus seragam, terutama ikan-ikan yang mempunyai sifat kanibal (saling memangsa) seperti ikan kerapu, kakap, dan ikan-ikan karnivor lainya.
6. Cacat
• Cacat yang dimaksud disini adalah cacat bawaan/turunan yang di bawa ikan sejak lahir.
• Ikan cacat akan kesulitan memperoleh makanan, baik karena pergerakannya lambat atau karena kecacatannya sehingga mengalami kekerdilan. Dan karena itu, sulit bersaing terutama dalam memperoleh makanan.
• Walaupun demikian ikan cacat bukan hanya merupakan penyakit (non-infeksi) bawaan, tetapi juga karena perlakuan pembenih yang tidak tepat.
• Misalnya, ikan yang mempunyai kebiasaan memakan makanan di dasar perairan, oleh pembenih diberikan makanan terapung. Perlakuan seperti ini akan menyebabkan ikan menderita mata juling. Begitu juga ikan yang mengalami pembengkokan tulang. Mungkin saja telur ikan ditetaskan terserang penyakit terlebih dahulu sebelum menetas.
7. Kualitas air
• Air yang memadai, baik kuantitas maupun kualitas sangat menentukan keberhasilan budidaya. Bila kondisi air tidak memenuhi syarat, maka di situlah merupakan sumber penyakit.
• Ikan yang shock atau stres karena tekanan peningkatan suhu yang tinggi mudah terserang organisme penyakit.
• Kosentrasi amonia yang tinggi bisa menyebabkan perubahan histologis pada jaringan insang walaupun secara lambat tetapi terus menerus.
• Kepadatan merupakan faktor lain penyebab menurunnya kesehatan ikan dan meningkatnya pengaruh penyakit ikan, terutama yang berasal dari bakteri dan parasit.
• Menjaga agar kualitas air tetap optimum bagi kebutuhan ikan yang dibudidayakan, berarti menjaga kesehatan ikan dan mencegah serangan penyakit.
• Kualitas air yang optimum dapat dipertahankan dari kegiatan memilih lokasi yang ideal, menggunakan dan membuat wadah budidaya yang cocok, dan melaksanakan pengololaan usaha budidaya ikan secara benar, seperti memilih benih yang berkualitas, pemberian pakan yang cukup dan bermutu serta tepat waktu, pergantian air, pengelolaan tanah, dan sebagainya.

1 komentar: