Senin, 15 Februari 2010

ikan tuna sirip kuning (thunnus albacares)

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Ikan tuna merupakan salah satu ikan ekonomis penting di dunia dengan harga yang relatif tinggi. Permintaan dunia akan ikan ini terus meningkat terutama untuk tujuan Jepang sehingga aktifitas penangkapan terus meningkat.

Dampak dari penangkapan ini mulai terlihat dengan terjadinya penurunan hasil tangkapan dan bahkan penurunan bobot per ekor ikan yang tertangkap. Ini merupakan salah satu indikasi telah terjadinya penurunan populasi tuna di alam oleh akibat lebih tangkap. Sementara teknologi perbenihan belum berkembang. Jepang sebagai pioneer dalam perbenihan ikan tuna baru berhasil dalam penelitian skala laboratorium.

Pemerintah Jepang berpendapat bahwa Indonesia bertanggung jawab atas kelangsungan perikanan tuna dunia karena Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor ikan tuna terbesar dunia. Untuk itu perlu dilakukan studi tentang perbenihan ikan tuna di wilayah perairan tropis.

Tahun 2001, pemerintah Indonesia Jepang sepakat menandatangani perjanjian kerjasama riset dalam bentuk Proyek Riset Perbenihan ikan tuna sirip kuning (T. albacares) yang dilaksanakan di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol, Bali. Pada tahun 2003, proyek kerjasama ini telah berhasil dalam mengembangkan teknik penangkapan, transportasi dan aklimasi calon induk. ikan tuna. Keberhasilan ini diikuti dengan pengembangan teknik pembesaran dan pemijahan induk ikan tuna sirip kuning. (http://www.pembenihan/ikan tuna sirip kuning ( thunnus albacares )

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Uraian Umum Tentang Ikan Tuna

Ikan tuna termasuk dalam keluarga Scombroidae, tubuhnya seperti cerutu. mempunyai dua sirip pungung, sirip depan yang biasanya pendek dan terpisah dari sirip belakang. Mempunyai jari-jari sirip tambahan (finlet) di belakang sirip punggung dan sirip dubur. Sirip dada terletak agak ke atas, sirip perut kecil, sirip ekor bercagak agak ke dalam dengan jari-jari penyokong menutup seluruh ujung hipural. Tubuh ikan tuna tertutup oleh sisik-sisik kecil, berwarna biru tua dan agak gelap pada bagian atas tubuhnya, sebagian besar memiliki sirip tambahan yang berwarna kuning cerah dengan pinggiran berwarna gelap (Ditjen Perikanan, 1983).

II.1.1 Ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares)

Beberapa istilah lain untuk jenis ikan tuna sirip kuning adalah tuna madidihang, yellowfin-tuna (Inggris) dan Thunnus albacares (latin). Salah satu ciri utama tuna sirip kuning adalah garis berwarna kuning yang terdapat di sepanjang sisi kiri dan sisi kanan ikan tuna. Garis kuning tersebut akan tampak jelas apabila terkena cahaya. Hidupnya bergerombol dan bergerak sangat cepat sehingga sulit ditangkap Potensi ikan tuna jenis sirip kuning di Indonesia sangat besar sebab jenis tersebut merupakan jenis terbanyak yang terdapat di perairan laut Indonesia. Wilayah kelautan dengan sumber daya ikan tuna sirip kuning terbesar di Indonesia adalah Laut Flores dan Selat Makassar. Menurut data DKP, tuna sirip kuning di Laut Flores dan Selat Makassar mencapai 1,2 ton per pancing dengan luas area penangkapan 605ribu km². Meskipun demikian, hingga saat ini tingkat pengusahaan potensi tersebut baru mencapai 50% (data terlampir).

II.1.2 Klasifikasi ikan Tuna Sirip Kuning

Menurut Saanin (1984), klasifikasi ikan ekor kuning atau yellowfin tuna (Bonnaterre,1788), adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Sub phylum : Vertebrata Thunnus
Class : Teleostei
Sub Class : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Genus : Thunnus
Species : Thunnus albacore (Albacore)

II.2 Ciri-ciri Fisik Ikan Tuna Sirip Kuning

Tubuh yang berukuran besar, berbentuk fusiform (torpedo), sedikit kompres dari sisi ke sisi. Jari-jari insang 26-34 pada lengkuangan pertama. Memiliki dua sirip dorsal/punggung, sirip depan biasanya pendek dan terpisah oleh celah yang kecil dari sirip belakang. Mempunyai jari-jari sirip tambahan (finlet) 8-10 finlet dibelakang sirip punggung dan sirip anal 7-10 finlets. Memiliki sisip pelvik yang kecil.

Pada spesimen yang berukuran besar memiliki sirip dorsal kedua dan sirip anal yang sangat panjang, mencapai lebih dari 20% panjang cagak; sirip pektoralnya cukup panjang, biasanya lebih dari panjang sirip dorsal kedua biasanya 22-31% dari panjang fork. Sirip ekor bercagak agak ke dalam dengan jari-jari penyokong menutup seluruh ujung hipural. Sirip ekornya berbentuk sangat ramping dan terdiri dari 3 keel. Tubuhnya tertutup oleh sisik yang sangat kecil, berwarna biru tua dan agak gelap pada bagian atas tubuhnya. Sisik berukuran besar kadang berkembang namun jarang nampak. Tanda sisik yang berukuran besar membentuk semacam lingkaran disekeliling tubuh pada bagian belakang kepala, dan kemudian berkurang di bagian belakang sirip dorsal kedua. Ikan ekor kuning berwarna biru tua gelap pada sisi belakang dan diatas tubuhnya dengan perut kuning atau silver. Sirip dorsal, sirip anal dan jari-jari sirip tambahan berwarna kuning menyala. Memiliki permukaan ventral hati yang cukup halus. Ikan ekor kuning matanya kecil dan memiliki gigi berbentuk kerucut. Kantung renang terdapat pada jenis tuna ini

II.3 Deskripsi Spesies

Ikan ekor kuning adalah anggota dari albacore, bonito, makarel, dan tuna. Jenis-jenis ikan tuna agak susah untuk dibedakan spesiesnya. Blackeye, blackfin, albacore, dan ekor kuning memiliki bentuk yang mirip dan sering ditangkap bersama-sama. Karakteristik yang membedakan ikan ekor kuning dari spesies yang lain adalah sirip anal dan dorsal yang memanjang pada ukuran ikan yang besar. Ikan ekor kuning merupakan ikan kedua terbesar dari spesies tuna yang ada. Ikan ekor kuning dapat mencapai total panjang 2,80 meter dan berat maksimum 400 kg sehingga sangat populer. Umumnya memiliki panjang cagak 150 cm.

Rata-rata umur ikan adalah 8 tahun. Tuna termasuk perenang cepat dengan kecepatan mencapai 80 km/jam dan terkuat di antara ikan-ikan yang berangka tulang. Mereka mampu membengkokan siripnya lalu meluruskan tubuhnya untuk berenang cepat. Ikan ini memakan ikan kecil, krustacea, pelagik dan epipelagik moluska. Ikan ekor kuning adalah makanan laut di seluruh dunia dan ancaman overfishing. Ikan ini enak untuk dimakan. Ikan ekor kuning merupakan ikan komersial terpenting kedua dari beberapa jenis tuna. Kapasitas maksimum isi perut pada ikan ekor kuning dapat mencapai 7% dari berat tubuhnya. Ikan tuna setiap harinya dapat mencerna makanannya 15% dari berat tubuhnya. Ikan tuna yang mendiami daerah pantai biasanya memakan gerombolan ikan hidup (anchovies, sardines). Ikan ekor kuning yang dewasa dapat bersifat kanibal.

II.4 Musim Pemijahan

Area satu-satunya di Pasifik yang mengindikasikan puncak pemijahan yang tinggi dan berulang-ulang disepanjang dareah ekuator adalah disekitar Filipina Selatan dari sampel yang diambil di Teluk Gulf dan Laut Celebes. Berkurangnya aktifitas pemijahan diantara ikan dewasa diduga karena menurunnya suhu permukaan air di dareah ini antara bulan Februari hingga Mei. Selain itu perubahan musim pemijahan ikan ekor kuning berkaitan dengan perubahan tanda-tanda iklim dan produktifitas lokal.

Puncak musim dan area pemijahan dari ikan ekor kuning berada di sekitar dareah ekuator Pasifik Barat dan Tengah. Puncak pemijahan di bagian barat (135E –165E) diduga terjadi pada kuarter keempat dan pertama dan puncak pemijahan di dareah Pasifik Tengah (180-140W) terjadi pada kuarter kedua dan ketiga. Musim pemijahan di sepanjang pulau Hawaii terjadi antara bulan April hingga Oktober dan puncaknya pada Juni, Juli dan Agustus, dimana ikan ekor kuning dewasa menjadi rentan tertangkap oleh pancing dan alat tangkap lain.Selama puncak pemijahan dimusim panas yang pendek, lebih dari 85% dari ikan ekor kuning berhasil memijah. Sedangkan pada musim dingin ikan ekor kuning menghentikan aktifitas pemijahannya. Periode puncak memijah dari ikan ekor kuning umumnya di musim panas dan musim semi, namun umumnya masa memijah dapat terjadi sepanjang tahun.Tuna termasuk perenang cepat dan terkuat di antara ikan-ikan yang berangka tulang. Penyebaran ikan tuna mulai dari laut merah, laut India, Malaysia, Indonesia dan sekitarnya. Juga terdapat di laut daerah tropis dan daerah beriklim sedang (Djuhanda, 1981).

BAB III

PENGELOLAAN IKAN TUNA SIRIP KUNING

III.1 Pengelolaan Calon Induk

III.1.1 Transportasi calon induk

Transportasi ikan tuna yang tertangkap dilakukan dengan menggunakan bak fiberglas oval vol. 1 m3. Dengan menggunakan bak ini hanya 2-3 ekor ikan berukuran 2 kg atau satu ekor untuk ikan berukuran 3-5 kg yang dapat ditransportasikan dalam satu trip. (http://www.pembenihan/ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares)

III.1.2 Pengobatan

Ikan-ikan yang berhasil ditansportasikan ditempatkan dalam bak pengobatan untuk dilakukan pengobatan dan observasi kondisi kesehatan ikan selama 24 jam. Pengobatan dilakukan dengan perendaman menggunakan Sodium Nifurstirenate (Na-NFS) yang lebih dikenal dengan nama dagang Erubazu sebesar 10 – 20 ppm selama 2 jam. Ikan-ikan yang sehat ditransfer ke bak aklimasi dengan menggunakan kantong plastik setelah terlebih dahulu dilakukan pengukuran panjang cagak, memasukkan tagging dan pemotongan finlet untuk keperluan analisa genetik.

III.1.3 Aklimasi

Calon induk yang masih berukuran antara 2-3 kg tersebut dipelihara dalam bak beton bervolume 150 m3 ( ø 8m kedalaman 3m) dalam beberapa bulan untuk observasi pertumbuhan dan kesehatan ikan sehingga ikan yang dipindah ke dalam bak induk sudah benar-benar sehat dan teraklimasi. Selama dalam bak aklimasi, ikan diberi pakan satu kali sehari dari Senin-Sabtu dan pada hari Minggu tidak diberi pakan. Pakan yang diberikan berupa ikan layang dan cumi-cumi sebesar 10-20 % biomas. Untuk menjaga kesehatan ikan, diberikan tambahan vitamin kompleks sebesar 15 g/kg pakan atau 0.4 g/kg bobot ikan dalam bentuk kapsul. Pertumbuhan harian rata-rata ikan yang dipelihara dalam bak aklimasi adalah 50 g/hari. Hal ini masih bisa ditingkatkan jika tujuannya untuk budidaya. (http://www.pembenihan/ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares)

III.2 Pemeliharaan Induk

Ikan-ikan dari bak aklimasi yang telah terseleksi dan mencapai bobot rata-rata 3 kg dipindahkan ke bak induk bervolume 1500 ton (ø 18m, kedalaman 6m) untuk selanjutnya dijadikan induk. Semua ikan telah diberi tagging sehingga setiap ikan dapat didata dan akan berguna untuk pendugaan kualitas genetik setelah memijah melalui analisa genetik.

Calon induk ikan tuna diberi pakan satu kali sehari dari Senin-Sabtu dan pada hari Minggu tidak diberi pakan. Pakan yang diberikan berupa ikan layang dan cumi-cumi sebesar 5-10 % biomas. Untuk menjaga kesehatan ikan, mempercepat pematangan gonad, diberikan tambahan vitamin kompleks sebesar 0.06, Vitamin C 3.75 dan vitamin E 0.03g/kg bobot induk. Vitamin kompleks dan Vitamin C diberikan setiap hari sementara vitamin E setiap dua hari. Pertumbuhan ikan yang dipelihara dalam bak induk dipertahankan semirip mungkin dengan pertumbuhan ikan tuna di alam sehingga tidak mengalami kegemukan. (http://www.pembenihan/ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares)

Berbeda dengan jenis ikan-ikan laut lainnya yang dapat disampling setiap bulan untuk melihat pertumbuhan atau tingkat kematangan gonad. Ikan tuna sebagai ikan perenang cepat dengan kulit yang sangat sensitif terhadap penanganan, sulit dilakukan sampling sehingga data pertumbuhan hanya dapat diperoleh jika ada ikan yang mati. Kematian yang sering terjadi adalah akibat menabrak dinding bak dalam kondisi ikan yang sehat sehingga data yang didapat sangat akurat. (http://www.pembenihan/ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares)

Berdasarkan data tersebut diperoleh dugaan pertumbuhan harian sebesar 30 -70 g/hari. Setelah satu tahun pemeliharaan, beberapa ikan telah mencapai matang gonad dan memijah. Diperkirakan ada 10 ekor ikan telah berumur 3 tahun. Pemijahan pertama terjadi pada bulan Oktober 2004 selama 10 hari berturut-turut, namun setelah itu belum pernah memijah kembali. Pemberian hormon LHRH dengan metode Oral Administration sudah dilakukan sebanyak 3x dengan dosis 500mg/kg ikan dengan tujuan memacu kematangan gonad. (http://www.pembenihan/ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares)

III.3 Pengelolaan air pemeliharaan

Dalam pemeliharaan ikan tuna dalam bak terkontrol, kualitas air memegang peranan yang sangat penting baik tingkat kandungan oksigen, pH air, dan kandungan kimia lainnya serta tingkat kecerahan air.

Untuk menjaga kondisi air tetap bagus, diperlukan satu paket suplai air yaitu pompa air laut, saringan pasir, tandon penampungan air, pipa saluran air ke setiap bak, biofilter. Dengan menggunakan sistem ini, pengelolaan air menjadi sistem semi tertutup (50 % resirkulasi) dan fluktuasi parameter air tidak terlalu besar. Pengukuran parameter kualitas air terutama Oksigen, pH dan salinitas dilakukan setiap hari sehingga jika terjadi perubahan yang drastis dapat dilakukan tindakan awal.

Untuk menambah suplai oksigen kedalam air digunakan ring blower 2.2 KW untuk bak aklimasi dan 3.7 KW untuk bak induk. Pembersihan dinding dan dasar bak dilakukan setiap dua bulan. (http://www.pembenihan/ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares)

III.4 Pemijahan

Pemijahan terjadi secara alami antara pagi hingga malam hari dan telur terkumpul dalam bak pemanenan yang telah dilengkapi dengan jaring. Telur dapat dipanen 2 jam setelah memijah dan selanjutnya di inkubasi dalam bak fiberglass 5001. Telur menetas setelah 24 jam inkubasi. (http://www.pembenihan/ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares)

III.5 Pemeliharaan Larva

Larva baru menetas mempunyai morfologi yang hampir sama dengan larva ikan laut pada umumnya. Mata belum berfungsi demikian juga dengan mulut dan anus. Pemeliharaan larva hampir sama dengan larva ikan laut pada umumnya hanya berbeda pada regim pakan. Pengelolaan lingkungan pemeliharaan larva dilakukan dengan pemberian Nannochloropsis sp, Dengan kepadatan 0.5 x 106 sel/ml dengan system pergantian air secara terus-menerus. (http://www.pembenihan/ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar